Postingan

Demi Buah Salak

Gambar
Senin, 20 Mei 2019 ... Demi apa coba gue install aplikasi Messenger ini lagi? Beberapa hari yang lalu, waktu kangen masa-masa berpetualang di negeri orang, gue activate lagi akun facebook buat unduh foto-foto kece. Nahh, sekilas ada pesan dari seorang kawan lama asal Kamboja. Saat itu, masih gue cuekin aja. Selesai unduh dan simpan foto lama, facebook gue deactivate lagi. Pusing liat berita-berita panas berseliweran, padahal sudah meng- unfriend banyak. Lhaa ... biasanya teman-teman dari luar negeri, kasih kabar dari facebook kan ya? Pesannya, yaa lewat aplikasi Messenger. Wahh .. jangan-jangan dia nanya kemungkinan ketemu. Seneng kan ya, kalo ke luar negeri untuk acara formal, terus kita bisa pamer ini lhoo saya punya teman di sini ... ha ha ... Oke lahh, demi jaringan pertemanan, siapa tahu nanti jaringan kerja sama G to G ... he he “ Hi , Suci –san ... do you live in Jakarta?” ternyata Sovyl yang bertanya. “ I work in Jakarta, but live outside Jakarta,” enaknya punya teman dar...

Pintu Kota

Di pantai Pintu Kota Ambon kutemukan senyum istimewa. Begitu manis, ramah, dan ceria Menetap di hati tak lekang masa. Senyum indah penuh pesona tiada satu di ribuan wajah. Menyesali kesan pertama menganggapnya biasa saja. Kukembali ke kota Ambon menyusuri pantai-pantainya. Coba lagi temukan dia, pemilik senyum yang istimewa.

Assalaamu'alaikum, Krisna

Aku tersanjung karena mata mu yang berkaca-kaca saat mengatakannya. Ketulusanmu menembus hatiku. Tapi percayalah, semua yang sempat kau tahu hanya topeng. Aku bukan orang yang ada dalam kenanganmu yang terlanjur terukir indah. Andai kau percaya, akan kukatakan yang sebenarnya. Kalau pun kau tak percaya, biarlah aku ingin jujur kepada diriku sendiri. Memantapkan hati menuju apa yang kuinginkan. Sejak lama sekali. Aku hanya perempuan akhir zaman, yang sejak masa pertamanya menjadi wanita punya mimpi: hanya disibukkan urusan mendidik anak, menyediakan makan untuk setiap hari, merawat rumah dan mematut diri. Tapi di sini aku, mendapat begitu banyak anugrah. Tahta, harta, keluarga. Aku ingin memilih yang terakhir, tapi tak bisa. Kalau umurku panjang, aku ingin tetap mandiri saat tak sanggup bekerja lagi. Dan sungguh, inginku tak lama. Sekadar aku bisa mendapat jatah sesuai kebutuhan seorang lanjut usia. Jadi yang kulakukan hanya bertahan. Menyelesaikan apa yang kubisa. Kalau kau lihat aku b...

Apakah Bunda Selelah Ini?

Alam sadar seolah menyuruhnya membuka mata. Spontan yang dilihat adalah jam dinding kamarnya, " Ya ampuun, masih jam tujuh kurang 15 menit aku kan masih bisa bangun lebih siang," batinnya. Hari Sabtu seharusnya jadi hari bermalas-malas sedunia. Tambahan lagi, kepalanya penat, tubuhnya letih, dan jiwanya lelah dalam sepekan. Lengkap sudah pembenarannya untuk menarik selimut lagi. Dengkuran keras suaminya seolah jadi musik pengantar tidur lagi. Ia mencoba menenangkan diri, menguasai alam sadarnya untuk mencoba rileks dan tidur lagi ... berhasil. Matanya terbuka lagi seiring nada dengkuran suaminya berganti. Antara penat dan sepat, malas dan sadar dia punya kewajiban setiap pagi, otaknya seperti tak mau dibujuk untuk rileks lagi. Hahh ... jam tujuh kurang sepuluh menit? Meski hanya lima menit tidur, ia harus bangun memulai hidup di hari itu. "Aku belum masak, gelas-gelas belum dicuci, pakaian kotor belum dieksekusi, bahan makanan seminggu sudah habis," sederet tugas ...

Ku Lihat Kau Bahagia

Engkau memancarkannya. Dari tawa yang selalu menghias wajah lelah mu. Saat kau bercanda dengan ombak, memeluk damai di gunung, atau  bermanja-manja dengan hijaunya sawah. Hatiku bungah melihatnya. Harusnya kau tahu. Lewat dingin pagi yang membuatmu terjaga untuk sholat, terik mentari yang membalut sepi mu jadi hangat, atau hembusan angin yang tak pernah lelah berbisik membujukmu untuk pulang. 🌾

Cerita Hujan

Secangkir kopi membujukku, "Bersahabatlah dengan hujan hari ini. Menggenapi pahit dan masamku yang terlanjur kau siram air panas." Seonggok novel bergegas mengamini, "Duduklah dekat jendela sambil membaca ceritaku. Puluhan purnama telah kau diamkan aku." Aku sudah melipat selimut dan awalnya hendak pergi. Tapi dingin hujan kadung memeluk erat. Rintiknya merdu jatuh di atap. Kenapa juga harus merutuki hujan? Toh, derasnya ditunggu banyak ciptaan Tuhan? Aku pun setuju untuk diam. Menghirup rasa kopi, berpetualang dengan cerita novel, dihembus angin yang kerap menyapa riang. Ternyata, dikurung hujan bisa menyenangkan.🌾

Anak Muda Zaman Sekarang

"Lex, wahh sorry , ya. Jadi terlambat deh kuliah. Gara-gara bikin proyeksi penerimaan," Tami merasa menyesal sudah menyebabkan Alex, anggota timnya, harus menyelesaikan pekerjaan lewat waktu jam pulang padahal Alex ada jadwal kuliah. "Santai aja, lagi mbak. Anak muda itu tambah senang ada alasan ga masuk kuliah," seloroh Jordy, anggota tim nya yang lain. "Masak sih?" Tami masih menyesal, sementara sekilas dilihatnya Alex cengar cengir. Kegembiraan sangat terpampang jelas dari wajahnya. Kenapa Tami merasa menyesal? Iya, seharusnya dia bisa mengerjakan proyeksi itu sendiri. Pada zaman dia masih junior dulu, Tami merasakan sekali dukungan atasannya melanjutkan kuliah. Berbeda dengan teman-temannya yang sering ditahan pekerjaan, atasannya selalu memberi kelonggaran saat jam pergi kuliah tiba. Karena melanjutkan jenjang pendidikan, untuk pegawai lulusan diploma seperti dia, sangat penting bagi peningkatan kesejahteraan. Karena itu, kalau sampai pada pos...