Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita

You’re So Handsome

Gambar
Is studying that difficult? Yes, but it can be fun at the same time. I still don’t understand how I went through those weird formulas, and survived, though. Those mathematics problems, economics curves, or econometrics stages were unfamiliar to me. The only thing I knew was, doing my best and asking everyone knew better than me. It was a blessing in disguise, that the more difficult the problem was, the more chances I got to admire you. Just Imagine! At your age, the same as mine, you were given with such adorable understanding of sophisticated ‘languages’ of quantitative subjects. I remembered you were explaining the basic of econometric models of prediction. It was so obvious, yet I didn’t understand. I was distracted by your handsome smile, polite gestures, and intellectual looking. Wisconsin PhD graduate, huh? Those New Yorker dialect and casual outfits simply fitted you. I am so sorry if you found paper tests showed very bad results, supposed those were mine. It was so dif...

Sodara Ketemu Gede

Gambar
Neng kenal  mba Yayun, Tirta, dan mas Akmal saat wawancara beasiswa di gedung A Bank Indonesia. Dia heran dengan kepribadian ketiga orang ini yang ramah dan langsung ‘nyetel’ ngobrol ngalor ngidul seputar materi tes matematika dan wawancara saat itu. Padahal, banyak orang yang baru kita kenal harus ditanya berkali-kali untuk memulai percakapan. Pertemuan selanjutnya, dan menandai dimulainya persaudaraan mereka, di pesawat JL726 tujuan Jakarta-Tokyo, 8 Juli 2009. “Lu udah tahu bahasa Jepang yang harus diucapin setelah selesai makan?” tanya Tirta. “Hah?? Emang bakalan penting kita pake kalo di sana? Gue cuma tahu arigatou ,” Neng jadi takjub dengan kesiapan orang satu ini. “Lho … kalo ke Negara orang, kita harus tahu tata krama yang berlaku di sana. Sehabis makan, bilang ke koki nya,’ gochisyoo samadeshita, ’ mereka akan respek banget.” Well … oke, oke, Neng pun terbata-bata bagai merapal ‘mantra’ gochisyoo samadeshita … berkali-kali. Mereka kemudian bergabung dengan 40 pen...

Akankah kau terus (berusaha) mencintai ku?

Gambar
If I showed you my flaws, if I couldn't be strong Tell me honestly, will you still love me the same?                                                - R. City Kenapa orang berkomitmen untuk saling mencintai? Bersusah payah mengikat komitmen itu dalam ikatan pernikahan? Kenyataannya, bersatu dengan orang yang berbeda sangat sulit. Seolah-olah dia tidak berusaha memahami kita, sementara kita sangat menginginkan dia menjadi berbeda. Neng banyak melihat pasangan yang menurutnya ideal. Seperti yang dia temui di sanggar musik tradisional sewaktu mengantar anaknya seleksi masuk SMUN asrama Pemprov Banten di Pandeglang. Sang ayah yang teknokrat menunjukkan gurat-gurat wajah dan tubuh yang lelah, bagaikan memanggul beban kebutuhan dunia keluarganya. Sang bunda, memancarkan wajah yang matang akan ujian, karena fokus mendidik tiga anaknya, dan mengubur bakat ilmiah demi menj...

The Special One Saja Terlihat Gagal, Apatah Neng???

Tadinya Neng  fikir promosi di tempat yang berbeda tugas, fungsi serta cara kerjanya, adalah tantangan yang menggairahkan. No no no … ketika saat itu tiba, Neng malah gemetar, cemas, dan takut karena semua proses kerjanya begitu gelap baginya. Neng benar-benar belum punya pengetahuan, bahkan yang paling azasi tentang pekerjaan di unit baru ini. Jadilah Neng seperti orang gagal. Proses pembahasan RPP yang berkali-kali dalam waktu hampir setahun, Kementerian/Lembaga yang sulit dikoordinasikan, proses pencairan yang sering melibatkan mereka di sisi perencanaan, protes pelaksanaan Kementerian/Lembaga terkait ijin penggunaan, pelaksanaan pengelolaan kegiatan, atau pertanyaan-pertanyaan yang sama namun selalu diulang : mana PNBP, dan mana yang bukan. Belum lagi, tugas mengarahkan kolega bawahan, mendisposisi, atau memberdayakan mereka ketika kelihatan menganggur. Rasanya, hanya doa-doa yang Neng panjatkan yang bisa membuatnya bertahan sampai satu tahun mengemban tugas ini. Neng masih...

Neng, Perempuan Galau

Malam itu, seperti biasa, setelah menjalani rutinitas sepulang kerja: menyapa anak-anak yang bersiap tidur, merapikan pakaian yang sudah disetrika, mencuci gelas-gelas berserakan, mandi dan sholat isya, Neng masih ada tugas memeriksa hasil pekerjaan kakak menjawab latihan ujian nasional matematika. Rasanya, hampir   setiap kesempatan, dia mendampingi kakak memahami konsep soal matematika, dari mulai bahan masuk pesantren, MTs Negeri, sampai try out di sekolah, tapi … hasil nya belum ada yang memuaskan. Padahal Ujian Kelulusan SD tinggal menghitung hari. Menurut pengamatan Neng, bukan karena kakak tidak mengerti apa yang harus dikerjakan atau bagaimana harus menyelesaikan soal, tapi lebih karena daya juangnya yang kurang. Gampang menebak, atau cenderung terlalu santai mengerjakan setiap soal. Seperti tak ada dimensi waktu. Serasa dia tidak bersaing dengan orang lain untuk mendapat nilai benar sebanyak-banyaknya. Menjadi Ibu yang diandalkan di rumah sebagai guru privat tentu saja ...

Senyum Eiichi

Rasanya berlebihan sekali kalau senyum seseorang bisa menjadi pelipur lara yang begitu ampuh. Karena bisa saja dia hanya mencoba ramah sebab pembawaannya yang ramah. Tapi, senyum yang tulus terpancar itu menjadi begitu berarti saat engkau merasa sendiri, terasing, bingung dan hampir kelaparan. Saat tiba di Narita dan bertemu dengan sekitar 40 orang penerima beasiswa lainnya dari 15 negara berkembang saja Neng sudah berkecil hati. Setiap mereka minimal membawa 2 koper paling besar, 1 koper besar, dan 1 ransel. Cuma Neng saja yang kelihatan santai dengan hanya membawa 1 koper besar dan satu tas ransel. Mereka siap menghadapi perbedaan cuaca dengan pakaian dan makanan. Mereka siap menikmati hidup dengan bermacam sepatu dan peralatan olahraga. Sedangkan Neng? Ketika berkemas saja dia berhitung membawa baju sekedar cukup untuk 7 hari,   beberapa bungkus Indomie,   3 bungkus bumbu pecel. Giiiee…kapasitas bagasi dan bayangan repot mengangkat-angkat koper kerap menghantuinya. ...

Senyum Manis Itu Lagi

Gambar
bagian kedua dari Kabut Di Matamu “Kak, kok masih cemberut? Ada apa sih, Kak?” Pagi-pagi, sambil membereskan tempat tidur, Ibu mencoba mengejar Kakak. Ga enak banget dicemberutin anak tanpa tahu sebabnya. Kakak melipat selimut,”Ga ada apa-apa, Bu”. Dia masih mencoba menahan amarahnya. “Ga ada apa-apa tapi kenapa seperti orang kesal begitu? Ayoo, bilang ada apa?” Maunya sih tegas. Tapi kesannya Ibu malah marah-marah :-p “Aku ada PE-ER bikin pidato perpisahan. Di sekolah, aku belum belajar  cara buat isinya, Bu”, Alif mendudukkan diri di pinggir tempat tidur. “Ya … sudah buatnya nanti kalau sudah diajari Bu Guru. Pasti nanti diajarkan kan?” Ibu duduk menemani Alif yang matanya nampak berani menatap Ibu dengan emosi. “Dikumpulnya hari Selasa pekan depan”, dia mulai terdengar putus asa,”aku tanya Ayah buku cara bikin pidato malah dimarahin. Aku sebel sama Ayah!!! Kenapa sih aku dimarahin melulu?” Nadanya mulai meninggi … heiiii … berhenti, berhenti! Huffhhh …  begin...

Kabut di Mata Mu

Hari Rabu itu Ibu pulang agak malam. Terus terang saja, Ibu sengaja mencari mood di kantor dulu sebelum pulang. Membaca catatan Bu Guru di buku penghubung Najib malam sebelumnya, membuat Ibu harus menebalkan mental, menenangkan hati, dan mendinginkan otak sebelum mengajarkan pelajaran yang akan dites di ulangan. Demi membuat Najib lebih terlatih dengan pengurangan bersusun panjang dan pendek, kemarin malam itu emosi Ibu benar-benar terkuras. Sampai-sampai Ayah turun tangan. Bayangkan … Di buku tulisnya, Najib memperoleh angka 100 untuk 10 nomor latihan matematika tentang pengurangan bersusun panjang. Dengan gaya bidadari surga yang sabarnya sepenuh langit dan bumi (hehehehe …) awalnya Ibu memberi petunjuk cara mengerjakan contoh soal … “Begini lho, De … kalau 45-32, ditulis dulu 45 =    …. (untuk puluhan) + … (untuk satuan. Terus di bawahnya tulis 32= ….. (untuk puluhan) + …  (untuk satuan). Tarik garis paaaaanjaaaang di bawah 32 itu lalu kasih tanda kurang...

Najib Mau Sholat

Ya ampuuunnn … susah amat ya, nyuruh sholat si nyemluk (julukan gemeusss Ayah untuk Najib yang chubby ). Adaaa saja alasannya … “Aku masih gambar, Ayah” … “Aku mau makan, Ibu” … “Aku capek, Emak” … “Pokoknya aku tidak mau sholat, Baba” … dua yang terakhir adalah panggilan si nyemluk ke pengasuh anak-anak dan suaminya. Kalau kakaknya, bisa di-persuasi, di-sugesti, di-motivasi dengan hal-hal yang bersifat ‘ghaib’, misalnya: tabungan pahala mu sudah banyak, lho … Allah sedih lho, kalau kamu tidak datang sholat … nanti dibangunkan rumah indah lhoo di surga. Tapi, si nyemluk ini kalau dikasih motivasi ‘ghaib’ seperti itu malah bertanya: “Memang Allah ada di mesjid ya, Bu?” “Surga itu di atas awan ya, Bu?” “Aku kan maunya paha ayam, Bu. Bukan paha la…” Tapi, Ayah tidak kehabisan strategi untuk membiasakan Najib sholat: naik motor ke masjid yang jaraknya hanya 300 meter-an dari rumah. Setiap hari libur, plus shubuh Ayah akan tergopoh-gopoh mengeluarkan motor, kecuali huj...

Kirimkan Saja Alif Doa, Bu

Waktu akan ditinggal ibunya setahun lalu, Alif yang belum genap berusia 7 tahun adalah anak kecil yang sangat bergantung pada ibu. Kegagapannya dalam mengekspresikan rasa sayang kepada sang adik, membuat dia cenderung cengeng dan pencemburu, sehingga kurang cocok dengan ayahnya. Jadilah ibu sebagai pelabuhan kegalauan dan pencurah perhatian buatnya.  Ibu hanya marah besar, sampai kepalanya berasap dan keluar tanduk, kalau Alif tidak mau makan dan susah mandi. Kalau Alif tidak mau sholat, ibu cuma berkata,”Lihat, Kak! Tabungan pahala kakak di pojok kamar sana berkurang banyak sekali”. Dan kadang-kadang sugesti imajinasi ini lebih berhasil daripada gelegar suara tegas sang Ayah. Atau kalau Alif pulang dari sholat berjamaah bersama Rozi di mesjid, sesampainya di rumah dan mencium tangan ibu, ibu dengan ekspresif membentangkan tangannya satu ke atas dan satu ke bawah seolah-olah membawa tumpukan barang yang banyak dan berat. Lalu ibu berkata,”Aduh lihat, kak! Pahalanya banyak sek...

Tempat Kami Melihat Bintang

Rumah yang ditinggali Neng dan keluarga kecilnya sudah tembok permanen meski belum bisa dibilang seindah rumah-rumah di kompleks kelas menengah ke atas di sekitarnya. Rumah warisan orang tua yang berusia 18 tahun itu dulu dibangun dengan tujuan menghabiskan lahan tanpa mengerti unsur estetika. Jadilah bentuk rumah itu bahkan lebih mirip trapesium. Abang, suaminya, sering berujar, " Rumah ini perlu direnovasi. Bukan supaya lebih indah, tapi biar lebih kuat dan bersih ". Abang bilang, sirkulasi udara dan cahaya di rumah ini kurang baik yang jadi pemicu anak-anak gampang kena athsma. Katanya, dinding-dinding rumah ini mulai miring dari posisinya semula yang berbahaya kalau turun hujan dengan angin kencang. Neng juga setuju karena dengan mata awamnya dia bisa lihat dinding di pojok-pojok rumahnya mulai retak yang ukurannya bisa untuk semut keluar masuk. Lalu, jika curah hujan sedikit saja lebih banyak, atap asbesnya sudah tak sanggup menahan curahan air sehingga mengalir ke dal...

Di Atas Yurikamome

Ternyata, masa itu datang lagi. Masa-masa Neng merindukan sunyi dan senyap belajar di negeri orang. Walaupun jauh dari keluarga dan perasaan ingin pulang kerap menutupi hati dan otaknya, walaupun harus berlama-lama memutar otak memecahkan soal-soal matematika yang bercampur antara huruf dan angka, walaupun harus mengorbankan waktu bersenang-senang karena harus menyusun tugas essay, dan walaupun harus berinteraksi dengan orang asing, benar-benar asing. Tapi … semua   konsekuensi perjuangan itu diselingi masa-masa indah. Ya … waktu pertama kali menginjakkan kaki di bumi samurai, Neng dan kawan-kawan langsung menuju suatu kota bernama Urasa yang sekelilingnya sawah dan gunung. Bahkan di dekat kampus, ada papan peringatan jangan berani-berani mendekati gunung tersebut karena banyak beruang berkeliaran. Malahan, Neng sempat beradu pandang dengan ular yang langsung membuat kakinya lemas, jantung seperti berhenti berdetak dan kepalanya sakit luar biasa. Tapi selebihnya, Neng mendapat ...