Postingan

Tanjung Pandan, Suatu Hari

Gambar
Tentu saja, Neng tahu yang namanya Pulau Belitung dari novel Laskar Pelangi yang dibacanya melalui ‘sorongan’ seorang kawan di tahun 2006. Bertahun-tahun novel itu jadi pembicaraan, Neng masih percaya ga percaya yang namanya Pulau Belitung itu ada. Setelah tahun 2010-an dibentuk provinsi Bangka Belitung, barulah Neng percaya bahwa daerah itu benar-benar ada. Kenapa segitu ga percaya? Yaaa … sulit saja membayangkan di tahun 80-an, setting di novel, ketika Neng sudah bisa menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi di Jakarta dari bus tingkat di atas jalan yang mulus, ternyata ada anak-anak di bagian lain wilayah Indonesia yang sekolah saja susah terkendala biaya. Padahal, dari visualisasi di film nya, tempat itu bagaikan surga dengan pantai-pantai elok berombak tenang dan bebatuan besar yang rapi tersusun bak pijakan bidadari kahyangan.   Belum lagi, kehidupan keras yang digambarkan dalam novel itu yang sempat membuat Neng berkesimpulan menjadi terdidik tidak cukup untuk menjadi ...

Gue Orang Pemerintah. Eloe?

Neng ingin tertawa ketika menutup telefon genggamnya. Entah karena lucu, entah karena sekedar ingin menertawakan dirinya. Yang pasti rasanya miris kalau mendengar orang menyalahkan pemerintah, atau membodoh-bodohi pemerintah saat berbicara dengannya. Chotto matte neee … gue kan bagian dari pemerintah.Hehehehe … Gara-garanya, dia ingin tahu jadwal ujian kelulusan sulungnya yang sekarang kelas VI. Dia ingin menyelaraskan jadwal Dinas Luar-nya supaya tidak bentrok dengan jadwal anaknya ujian. Ceritanya kan ingin jadi ibu ideal, bekerja tapi tetap juga membimbing anak belajar   :-p Jadilah percakapan itu,”Assalaamu’alaikum, selamat siang , Cordova”. “Wa’alaikumussalaam, Pak. Mau Tanya, pak jadwal ujian kelas 6 kapan ya Pak?” “Sepertinya kemarin sudah dibagikan jadwalnya, Bu”. “Belum, tuh Pak. Saya baru dapat jadwal sampai dengan try out ”. “Ooo… begitu. Tanggal 19 s.d 21 Mei Ujian Kelulusan, 22 – 23 Ujian Sekolah, bu” “Oke … mmm … Sekarang sistemnya bagaimana sih, Pak? T...

Neng, Perempuan Galau

Malam itu, seperti biasa, setelah menjalani rutinitas sepulang kerja: menyapa anak-anak yang bersiap tidur, merapikan pakaian yang sudah disetrika, mencuci gelas-gelas berserakan, mandi dan sholat isya, Neng masih ada tugas memeriksa hasil pekerjaan kakak menjawab latihan ujian nasional matematika. Rasanya, hampir   setiap kesempatan, dia mendampingi kakak memahami konsep soal matematika, dari mulai bahan masuk pesantren, MTs Negeri, sampai try out di sekolah, tapi … hasil nya belum ada yang memuaskan. Padahal Ujian Kelulusan SD tinggal menghitung hari. Menurut pengamatan Neng, bukan karena kakak tidak mengerti apa yang harus dikerjakan atau bagaimana harus menyelesaikan soal, tapi lebih karena daya juangnya yang kurang. Gampang menebak, atau cenderung terlalu santai mengerjakan setiap soal. Seperti tak ada dimensi waktu. Serasa dia tidak bersaing dengan orang lain untuk mendapat nilai benar sebanyak-banyaknya. Menjadi Ibu yang diandalkan di rumah sebagai guru privat tentu saja ...

Senyum Eiichi

Rasanya berlebihan sekali kalau senyum seseorang bisa menjadi pelipur lara yang begitu ampuh. Karena bisa saja dia hanya mencoba ramah sebab pembawaannya yang ramah. Tapi, senyum yang tulus terpancar itu menjadi begitu berarti saat engkau merasa sendiri, terasing, bingung dan hampir kelaparan. Saat tiba di Narita dan bertemu dengan sekitar 40 orang penerima beasiswa lainnya dari 15 negara berkembang saja Neng sudah berkecil hati. Setiap mereka minimal membawa 2 koper paling besar, 1 koper besar, dan 1 ransel. Cuma Neng saja yang kelihatan santai dengan hanya membawa 1 koper besar dan satu tas ransel. Mereka siap menghadapi perbedaan cuaca dengan pakaian dan makanan. Mereka siap menikmati hidup dengan bermacam sepatu dan peralatan olahraga. Sedangkan Neng? Ketika berkemas saja dia berhitung membawa baju sekedar cukup untuk 7 hari,   beberapa bungkus Indomie,   3 bungkus bumbu pecel. Giiiee…kapasitas bagasi dan bayangan repot mengangkat-angkat koper kerap menghantuinya. ...

Senyum Manis Itu Lagi

Gambar
bagian kedua dari Kabut Di Matamu “Kak, kok masih cemberut? Ada apa sih, Kak?” Pagi-pagi, sambil membereskan tempat tidur, Ibu mencoba mengejar Kakak. Ga enak banget dicemberutin anak tanpa tahu sebabnya. Kakak melipat selimut,”Ga ada apa-apa, Bu”. Dia masih mencoba menahan amarahnya. “Ga ada apa-apa tapi kenapa seperti orang kesal begitu? Ayoo, bilang ada apa?” Maunya sih tegas. Tapi kesannya Ibu malah marah-marah :-p “Aku ada PE-ER bikin pidato perpisahan. Di sekolah, aku belum belajar  cara buat isinya, Bu”, Alif mendudukkan diri di pinggir tempat tidur. “Ya … sudah buatnya nanti kalau sudah diajari Bu Guru. Pasti nanti diajarkan kan?” Ibu duduk menemani Alif yang matanya nampak berani menatap Ibu dengan emosi. “Dikumpulnya hari Selasa pekan depan”, dia mulai terdengar putus asa,”aku tanya Ayah buku cara bikin pidato malah dimarahin. Aku sebel sama Ayah!!! Kenapa sih aku dimarahin melulu?” Nadanya mulai meninggi … heiiii … berhenti, berhenti! Huffhhh …  begin...